Refleksi Tahun Baru Islam 1432H: Komitmen dan Persatuan Dalam Menegakan Ekonomi Islam

Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, seperti hembusan angin yang menerbangkan debu-debu yang tak akan kembali ke tempatnya semula. Sebegitu berharga-nya waktu sehingga Allah SWT membahasnya khusus dalam sebuah surat di dalam kitab-Nya Yang Mulia. Hari ini kita pun akan berhadapan dengan sebuah tonggak perputaran roda waktu yang akan membawa kita kepada fase selanjutnya dalam kehidupan kita. Sebagian manusia berhasil memenangkan pertarungannya di waktu sebelumnya sehingga memiliki bekal untuk menghadapi pertarungan selanjutnya. Tetapi sebagian yang lain mungkin masih terseok-seok.

 

Ekonomi Islam di Indonesia saat ini telah memasuki masa transisi dari ke-remaja-annya menuju arah ke-dewasa-an. Dimulai dengan beroperasinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1993, bola salju ekonomi dan keuangan syariah terus digulirkan oleh semakin banyak pemain. Namun demikian, masih terdapat banyak bolongan yang perlu di ‘vermak’ pada diri penggiat ekonomi Islam saat ini agar geraknya semakin terpadu dan efeknya semakin besar.

 

Diantara yang saya rasa perlu di ‘vermak’ adalah:

  1. Komitmen dalam niat dan sikap.
  2. Kesatuan dalam menegakkan ekonomi & keuangan Islam.

 

1. Komitmen dalam Niat dan Sikap (Tadabbur lepas subuh tadi tentang QS. An-Nisaa: 97 – 100)

 

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa: 100)

 

Ayat di atas adalah janji Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang memiliki niat bulat dan ikhlas karena Allah SWT untuk berhijrah dari satu kondisi buruk bagi iman dan Islam-nya kepada kondisi yang lebih dapat menghidupkan cahaya keimanan di dalam hatinya. Allah SWT menjanjikan bahwa hijrah menuju kondisi yang lebih mendekati dirinya kepada Allah SWT tidaklah akan membuat diri hamba tersebut menjadi sengsara dan miskin. Dalam konteks ekonomi dan keuangan Islam, meninggalkan pekerjaan yang penghasilannya didasarkan pada riba dan ke-dzaliman lalu berpindah/hijrah kepada pekerjaan yang lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah jauh lebih baik. Bukan hanya itu, ianya bahkan sangat perlu untuk dilakukan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini disebabkan beratnya pertanggungjawaban kita kelak ketika wafat dalam keadaan saat ini.

 

Pada ayat sebelumnya, di ayat 97, Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

 

Yang dimaksud menganiaya diri sendiri, menurut para ulama, adalah membiarkan diri dalam kondisi yang bersebrangan dengan Islam. Dalam Tafsir Ibnu Katsir yang saya baca, ayat ini berkaitan dengan ke-engganan beberapa orang Mekkah untuk berhijrah di sebabkan ketakutannya akan kehilangan harta dan nyawa mereka, dan memilih tinggal bersama dengan orang-orang yang bersebrangan dengan Islam (asalkan harta dan jiwa mereka aman), padahal mereka mampu untuk berhijrah. Dan ketika mereka wafat, itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh Malaikat Allah SWT…. Lalu disanalah tempat akhir mereka… Na’udzubillah.

 

Bagi saya, cukup dua ayat ini saja kita fahami, resapi, dan tadabburi dalam-dalam… rasakanlah betapa dekat ayat-ayat ini terngiang di telinga… maka sikap dan komitmen kita untuk meruntuhkan tembok kapitalis dan menggantinya dengan ekonomi Islam akan semakin melangit… saksikanlah…

 

 

2. Kesatuan dalam menegakkan ekonomi & keuangan Islam

 

Setelah komitmen yang ikhlas dan kuat tertanam dalam diri-diri penggiat ekonomi Islam, tahapan selanjutnya adalah menyatukan segala visi, misi, dan langkah-langkah strategis yang dapat diwujudkan untuk mencapai tujuan mulia tersebut. Namun biasanya persatuan inilah yang selalu menjadi masalah. Dalam level individual, masing-masing memiliki kemampuan luar biasa, tetapi dalam level berjamaah, mereka berjalan sendiri dengan ide dan visinya sendiri.

 

Apa yang menjadi masalahnya? Ada banyak faktor tentu saja. Misalnya, kebodohan, ashabiyah, ambisi, serta konspirasi dari luar. Itulah yang saring kita dengar setiap kali persatuan terkoyak. Tetapi, seorang ustadz pernah menjelaskan bahwa ternyata persatuan itu adalah refleksi dari ‘suasana jiwa’.

 

Persatuan hanya bisa tercipta di tengah suasana jiwa tertentu dan tak akan terwujud di tengah suasan jiwa yang lain. Suasana jiwa yang memungkinkan terciptanya persatuan, harus ada pada skala individu dan jamaah.

 

Tingkatan ukhuwah yang disebut rasulullah SAW mulai dari salaamatush-shadr (berlapang dada) sampai pada itsar (mendahulukan saudaranya), semuanya mengacu pada suasana jiwa. Jiwa yang dapat bersatu adalah jiwa yang memiliki watak ‘permadani’. Ia dapat di duduki oleh orang lebih kecil dan besar, alim dan awam, remaja dan dewasa. Ia adalah jiwa yang besar yang dapat merangkul dan menerima semua jenis watak manusia. Is adalah jiwa yang digejolaki oleh keinginan kuat untuk memberi, memperhatikan, mengembangkan, membahagiakan dan mencintai.

 

Jiwa seperti ini sepenuhnya terbebas dari ketidakmampuan untuk menghargai, menilai,dan melihat sisi-sisi positif dari hasil kerja orang lain. Jiwa seperti ini sepenuhnya terbebas dari ‘narsisme’ individu dan kelompok. Maksudnya, ia tidak mengukur kebaikan orang lain dari manfaat yang bisa ia ambil dari orang itu. Ia juga tidak mengukur kebenaran atau keberhasilan orang atau kelompok berdasarkan dari apa yang ia inginkan dari orang atau kelompok tersebut.

 

Umar bin khattab RA, mungkin merupakan contoh dari sahabat Rasulullah SAW yang dapat memadukan hampir semua prestasi puncak dalam bidang ruhiyah, jihad, fiqih, ip-tek, dan lain-lain. Namun demikian, semua kehebatan itu tidak dapat menghalangi beliau untuk berambisi menjadi sehelai rambut di dada Abu Bakar As-Sidiq RA. Sebuah wujud keterlepasan dari perasaan paling hebat.

 

Wallahu a’lam.

(Abu Fahmi)

Rujukan:

Al Qur’an, Buku Khalifah Rasyidah, Buku ‘Arsitek Peradaban’.

This entry was posted in Islamic Economic Thoughts, Special Issues. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s