Jual Beli Salam

As Salam terkadang dikenal juga dengan sebutan As Salaf atau pendahuluan. As Salam bermakna proses jual beli atas sesuatu dengan kriteria tertentu, yang barang tersebut belum ada saat ijab-qabul dilakukan dengan pembayaran didahulukan/disegerakan. Sabiq (1997) mengatakan bahwa para fuqaha menamainya dengan Al Mahawi’ij atau barang-barang yang mendesak, karena ia adalah jenis jual beli sesuatu yang tidak ada di tempat sementara dua pihak melakukan jual beli karena desakan keperluan. Pemilik uang memerlukan barang dengan kriteria tertentu, sedangkan pedagang meminta uang pembayaran disegerakan sehingga ia dapat membeli berbagai keperluan untuk membuat barang dengan kriteria yang dipesan pembeli tersebut. Jika pembeli disebut dengan Al Muslim atau pemilik As Salam, maka penjual disebut dengan Al Muslamu ilaihi (orang yang diserahi) dan barang yang dijual disebut dengan Al Muslam Fiih (barang yang akan diserahkan).

Landasan Hukum Jual Beli Salam

Landasan hukum tentang jual beli Salam terdapat dalam Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma.

1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya (dengan benar)

Ibnu Abbas berkata terkait dengan ayat ini:Aku bersaksi bahwa As salaf yang dijamin untuk waktu tertentu benar-benar dihalalkan Allah di dalam kitabullah dan diizinkan. Kemudian beliau membacakan surat Al-Baqarah ayat 282 seperti di atas.

2. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW datang ke Madinah di mana mereka melakukan jual beli As salaf untuk penjualan buah-buahan dengan waktu satu tahun atau dua tahun. Lalu rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melakukan salaf, hendaknya melakukannya dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula, sampai dengan batas waktu tertentu.”

Syarat-syaratnya

Syarat-syarat yang berlaku pada jual beli secara umum juga terkait dengan syarat-syarat jual beli Salam. Diantaranya adalah persyaratan untuk pembayaran dan barang yang diperjual belikan.

1. Syarat-syarat pembayaran

A. Diketahui dengan jelas jenisnya.

Misalkan ingin membeli ikan, makan harus diperjelas ikan jenis ikannya, apakah ikan emas, ikan mujair. Atau ikan yang lainnya.

B. Diketahui dengan jelas kadarnya.

Setelah jelas jenis ikannya, maka harus jelas juga kadar pembeliannya, apakah 1 kilo, 2 kilo, atau kadar lainnya.

C. Diserahkan dalam majelis.

Ijab qabul dilakukan setelah kesepakatan bertemu dengan kesesuaian barang dan nilainya.

 

2. Syarat-syarat barang yang diperjual belikan

A. Bahwa barang tersebut berada dalam tangungan.

Barangkali ada yang teringat dengan sebuah hadits dalam sunan  Ahmad dan Tirmidzi ketika Rasulullah SAW mengatakan: “Jangan menjual apa yang tidak ada padamu”. Dalam hal ini, pelarangan tersebut tidak berlaku pada jual beli salam karena makna dari “apa yang tidak ada padamu” adalah sang penjual tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi janjinya, sedangkan persyaratan dalam jual beli Salam adalah sang penjual harus memiliki kemampuan untuk memenuhi kriteria yang disepakati bersama. Jika ternyata diakhir waktu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan yang mengakibatkan rusaknya barang tanpa unsure kesengajaan, sehingga tidak memenuhi kriteria pemesanan, maka pembicaraan dalam musyawarah antara penjual dan pembeli perlu dilakukan.

B. Barang tersebut memiliki kriteria yang bisa memberikan kejelasan kadar dan sifat-sifatnya yang membedakannya dengan yang lain agar tidak mengandung gharar dan terhindar dari perselisihan.

C. Batas waktu diketahui dengan jelas.

 

Akan tetapi di dalam jual beli Salam tidak disyaratkan bahwa barang harus ada pada si penjual, yang terpenting adalah barang tersebut ada pada waktu yang telah ditentukan bersama. Ketika barang tersebut tida ada pada saat yang dijanjikan, maka akadnya menjadi rusak.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin al Mujalid, bahwa ia berkata: “Abdullah bin Syadad dan Abu Burdah mengutusku menemui Abdullah bin Abi Aufa, mereka mengatakan: Tanyakan padanya, apakah para sahabat Nabi pada zaman Nabi SAW pernah melakukan Salaf (jual beli salam) untuk gandum?”.

Abdullah bin Abi Aufa menjawab: “Dahulu kami melakukan salaf dengan para petani penduduk Syam untuk gandum dan minyak dalam takaran yang diketahui jelas dan waktu yang jelas”. Aku tanyakan lagi,”Dari mana asal barang yang ada padanya?”, Abdullah bin Abi Aufa menjawab,”Kami tidak menanyakan hal tersebut”.

Kemudian kedua orang itu (Abdullah bin Syadad dan Abu Burdah) mengutusku untuk menemui Abdurrahman bin Abza untuk menanyakan hal yang sama. Ia menjawab,”Para sahabat Nabi dahulu pada zaman nabi pernah melakukan salaf tetapi mereka tidak menanyakan penjualnya, apakah mereka memiliki ladanmg ataukah tidak.”

 

Aplikasi Jual Beli Salam di Perbankan Syariah

Kita semua tahu bahwa salah satu fungsi bank adalah sebagai lembaga intermediary. Termasuk perbankan syariah, bank-bank ini tidak merasa tertarik dengan proses mengolah bahan mentah menjadi barang jadi yang siap dipasarkan kepada konsumen. Bank-bank ini hanya menyediakan dana untuk pembiayaan. Lalu bagaimana model jual beli salam dapat diterapkan dalam dunia perbankan syariah?

Jawabannya sebenarnya sangat mudah, hanya memerlukan sedikit keberanian dan kerelaan untuk menanggung resiko agar skema jual beli salam ini bias sukses. Hal ini disebabkan pihak bank harus mempersiapkan diri dengan kerugian-kerugian yang mungkin terjadi dari jatuhnya harga Al Muslam Fiih (barang yang akan diserahkan). Dan tentu saja, jual beli salam tidak dapat diterapkan untuk semua hasil pertanian. Skema jual beli salam yang dapat diaplikasikan dalam perbankan syariah adalah seperti pada Gambar berikut.

Keterangan:

Koperasi petani mangga harum manis memerlukan bantuan dana untuk mensukseskan panen anggota-anggotanya tahun depan terhitung dari sekarang. Untuk itu, koperasi petani tersebut mendatangi bank syariah dan menawarkan skema jual beli salam agar bank syariah tidak rugi dan petanipun dapat panen dengan baik. Maka prosesnya adalah sebagai berikut:

(1) Bank syariah membeli 10 ton mangga harum manis dari koperasi petani buah mangga harum manis dengan harga Rp. 50.000,- per kilogram menggunakan akad jual beli salam untuk 1 tahun kedepan.

(2). Bank syariah membayar tunai kepada koperasi tersebut sebesar: Rp.50.000,- x 1000 x 10 = Rp. 500.000.000,- .

(3). Bank syariah menjual kepada pemborong buah mangga harum manis dengan harga Rp.55.000,- per kilogram menggunakan akad jual beli salam untuk 1 tahun kedepan.

(4). Pemborong membayar tunai kepada bank syariah sebesar: Rp.55.000,- x 1000 x 10 = Rp.550.000.000,-.

(5). Setelah satu tahun berlalu, koperasi petani mengirimkan mangga harum manis dengan jumlah dan kualitas sesuai pesanan kepada bank syariah.

(6). Bank syariah kemudian mengirimkan buah-buah tersebut kepada pemborong.

(7). Pemborong menjual mangga harum manis di pasar buah dengan harga Rp.100.000,- per kilogram.

(8). Pemborong mendapatkan keuntungan dari penjualan mangga di pasar buah.

Dari penjelasan dalam skema di atas, terlihat bahwa semua yang terlibat dalam jual beli salam mendapatkan keuntungan mereka masing-masing. Para petani mendapatkan keuntungan berupa panen yang baik dengan hasil yang memuaskan disebabkan keperluan-keperluan mereka dalam mengelola perkebunan tersebut dapat terpenuhi dengan uang tunai yang dibayarkan di muka oleh pihak bank syariah. Sedangkan pihak bank syariah mendapatkan keuntungan sebesar lima puluh juta rupiah yang merupakan selisih harga jual kepada pemborong dengan harga beli dari petani mangga. Dan pihak pemborong mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dari bank syariah dengan harga jual di pasar buah.

Memang resiko yang ditanggung oleh pihak bank dan pemborong cukup besar, utamanya ketika prospek harga barang tersebut ke depannya tidak terlalu positif. Oleh karena itu, sikap kehati-hatian bank dalam model jual beli ini sangatlah tinggi, dan skema ini pada akhirnya memang tidak dapat diterapkan untuk semua jenis produk atau hasil pertanian, hanya pada jenis-jenis hasil pertanian yang dapat diramalkan bagus. (Abu Fahmi)

This entry was posted in 'Uqud, Islamic Banking, Islamic Capital Market, Islamic Microfinance. Bookmark the permalink.

One Response to Jual Beli Salam

  1. Noor hamizah abu talib says:

    salam..boleh x nyatakan bagaimana proses jual salam diadakan secara detail

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s