Uang Dalam Islam

Rasanya tidak ada yang lebih sensitif dalam topik ekonomi selain pembahasan tentang uang. Dalam perekonomian saat ini pembahasan tentang uang masih tetap hangat, mulai dari perdebatan tentang kebijakan “uang ketat” vs “uang longgar”; tentang peran Bank Sentral; atau tentang versi uang yang sebenarnya apakah harus terbuat dari emas ataukah bahan lain, dan lain sebagainya.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, uang dianggap sebagai salah satu komoditas yang dapat diperdagangkan, selain tentunya berfungsi sebagai alat tukar dan pengukuran nilai suatu barang atau jasa tertentu. Layaknya barang komoditas, uang, dalam sistem kapitalis, memiliki sebuah harga. Sehingga, jika seseorang ingin meminjam uang dari orang yang lain, maka ia harus bersedia membayar harga dari uang tersebut. Inilah yang kita kenal dengan interest atau bunga uang.

Dalam masa sekarang ini, bunga uang telah berkembang dan mengakar dalam bentuk hutang publik yang sangat besar jumlahnya, khususnya di Negara-negara berkembang dan miskin. Dan yang paling menikmati sistem ini adalah Negara-negara maju yang dengan mudah, karena bunga uang yang dibebankan kepada Negara-negara berkembang dan miskin, menjadi ujung aliran arus sumber daya alam dari Negara-negara berkembang dan miskin yang terbebani hutang tersebut. Akibatnya, Negara-negara miskin harus bekerja keras hanya untuk memberikan pendapatan mereka kepada Negara-negara kaya.

 

Konsep Uang dalam Islam

Uang dalam perekonomian Islam memiliki fungsi sebagai alat tukar dan pengukur nilai, tetapi tidak sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan. Hal ini karena uang dalam bentuk aslinya tidaklah memiliki harga sema sekali, selembar kertas atau sekeping logam. Uang baru akan bernilai jika sudah ditukarkan ke dalam bentuk asset yang riil atau untuk membayar jasa yang diterima oleh si pemilik uang.

Islam telah menutup seluruh pintu bagi masuknya riba atau bunga uang ke dalam sistem perekonomian yang adil. Dari Abu Said al-khudry RA, bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda:

 

Janganlah kamu menjual emas dengan emas (mata uang) kecuali sama jumlahnya serta janganlah melebihkan sebahagiannya. Kemudian janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali sama jumlahnya serta jangan melebihkan sebahagiannya dan janganlah menjualnya dengan cara sebahagian secara tunai dan sebahagian lagi ditangguhkan.

(HR. Muslim)

 

Diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

Emas hendaklah dibayar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, tepung dengan tepung, kurma dengan kurma, garam dengan garam, bayaran harus dari tangan ke tangan (cash). Barangsiapa memberi tambahan atau meminta tambahan, sesungguhnya ia telah berurusan dengan riba. Penerima dan pemberi sama-sama bersalah.

(H.R. Muslim).

 

Dengan hadits ini jelaslah bahwa Islam menutup benar-benar seluruh pintu yang dapat digunakan oleh pendukung bunga uang untuk masuk ke dalam sistem ekonomi. Dengan melarang pemberlakuan sifat komoditas pada uang, Islam jelas melarang adanya bentuk pengambilan bunga atas uang. Dan pada akhirnya, akan berujung pada penyelesaian masalah eksploitasi sumber daya alam tanpa batas dari Negara-negara maju kepada Negara-negara berkembang dan miskin, penyelesaian masalah inflasi, pengengguran, dan volatilitas nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang domestik.

 

Perkembangan Uang dalam Ekonomi Islam

Dalam sejarah Islam, uang telah mengalami beberapa fase perkembangan sejak masa pra-Islam, masa kenabian, masa khalifah rasyidah, masa dinasti-dinasti Islam sampai akhirnya masa sekarang. Pembahasan pada bagian ini bersumber seluruhnya dari buku Al-Auraq Al-Naqdiyah fi al-Iqtishad al-Islami yang telah diterjemahkan oleh Barito dan Ali (2005) ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mata Uang Islami:

1. Uang di masa Nabi SAW

Mata uang yang digunakan dimasa Rasulullah SAW hidup adalah seperti yang digunakan oleh masyarakat umum saat itu yaitu Dinar Emas dari Byzantium dan Dirham Perak Dinasti Sasanid di Irak. Hal ini disebabkan bangsa Arab ketika itu tidak memiliki mata uang sendiri. Dan disebabkan kebiasaan bangsa Quraisy untuk melakukan perjalanan berdagang keluar negeri (QS. Al-Quraisy [106]: 1-4), mereka telah terbiasa dan menerima mata uang dinar dan dirham tersebut. Ketika Nabi Muhammad SAW di utus sebagai pembawa risalah, beliau menerima apa-apa yang berlaku di dalam masyarakat Quraisy saat itu selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, termasuk menerima mata uang dinar dan dirham. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW hanyalah menetapkan timbangan dinar-dirham yang beredar dikalangan masyarakat dengan timbangan yang lebih adil. Para ulama berpendapat bahwa hal ini disebabkan oleh kesibukan dan konsentrasi Rasulullah SAW ditumpukan hanya untuk memperkuat pondasi-pondasi agama Islam di tengah-tengah masyarakat Arab dan sekitarnya.

2. Uang di masa Khalifah Rasyidah

Pada masa khalifah Abu Bakar RA, hampir tidak ditemukan berita tentang intervensi beliau pada permasalahan ekonomi, khususnya pada mata uang yang digunakan. Selain karena sifat beliau yang sangat penurut dengan apa yang diperintahkan oleh Nabi SAW dan tidak berniat untuk meng-otak-atik apa-apa yang telah diterima dan ditetapkan oleh Nabi SAW, pada masanya beliau lebih disibukkan untuk memerangi orang-orang yang kembali kafir setelah Islam dan enggan membayar zakat setelah Rasulullah SAW meninggal.

Pada masa khalifah Umar bin Khattab RA juga hampir serupa, beliau banyak disibukkan dengan dakwah untuk menyebarkan islam ini ke barbagai penjuru dunia. Akan tetapi, beliau juga memberikan perhatian pada beberapa hal mu’amalah dan telah tercatat dalam sejarah. Diantaranya adalah keinginan beliau untuk menjadikan kulit unta sebagai mata uang masyarakat ketika itu sebagai pengganti dinar-dirham yang kemudian sebagian sahabat keberatan dengan usul tersebut namun bukan dengan alasan karena syariat melarangnya tetapi dengan alasan kekhawatiran bahwa orang-orang akan membunuh unta-unta mereka.

Pada masa khalifah Utsman bin Affan RA dan Ali bin Abi Thalib tidak terdapat perbedaan signifikan dengan masa Umar RA. Mereka mengikuti apa yang telah dilakukan dan ditetapkan oleh para pendahulu mereka.

3. Uang di masa Dinasti Umawiyah

Tidak ada perubahan signifikan yang terjadi pada pemerintahan Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai pendiri dinasti umawiyah. Kontribusi pada dunia Islam baru terlihat pada masa Abdul Malik bin Marwan yaitu dengan mencetak mata uang Islam secara tersendiri dan tidak lagi menggunakan mata uang dinar-dirham yang berasal dari luar Islam. Dan mata uang ini kemudian dipergunakan sampai beberapa khalifah berikutnya. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa hal ini dilakukan oleh Abdul Malik bin Marwan disebabkan perseteruannya dengan kerajaan Romawi ketika itu, tetapi pendapat yang lebih mashyur mengatakan bahwa alasan utama membuat koin dinar-dirham sendiri adalah untuk menghilangkan tulisan-tulisan dan lambang-lambang kemusyrikan pada koin-koin yang berasal dari romawi dan sasanid.

4. Uang di masa Dinasti Abbasiyah sampai Turki Utsmaniyah

Setelah dinasti umawiyah berakhir dan dilanjutkan oleh dinasti abbasiyah, tidak terlalu banyak perubahan terjadi kecuali maraknya kecurangan-kecurangan terkait dengan timbangan dan bahan campuran dalam pembuatan mata uang-mata uang tersebut. Tentu saja kecurangan ini tidak terjadi terus menerus, ada satu masa di mana mata uang Islam dicetak secara murni tanpa campuran tembaga. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah Al-Mu’tadid. Waktu itu beliau sebagai Gubernur Mesir dan memiliki otoritas yang otonom. Beliau menciptakan dinar dari emas yang dinamakan al-Ahmadiyah dan melakukan pengetatan ukuran sehingga kembali kepada estándar semula.

Pada masa dinasti Fathimiyah, mata uang Islam sudah banyak mengalami kemunduran nilai disebabkan banyak campuran-campuran yang dibubuhkan untuk mencetak setiap mata uang tersebut. Pada masa al-Hakim bin Amrillah, harga dinar sama dengan 34 dirham, padahal perbandingan asli antara dinar dan dirham adalah 1:10.

Pada masa dinasti Mamalik, pencetakan uang tembaga sudah sangat lazim bahkan menggantikan dinar emas dan dirham perak. Hal ini disebabkan oleh diantaranya: (i) Penjualan perak ke negara-negara eropa, (i) meningkatnya konsumsi perak untuk membuat berbagai perhiasan, dan (iii) impor tembaga dari negara-negara eropa yang semakin meningkat karena produksi tembaga di eropa yang sudah maju dan besar.

Pada masa dinasti utsmaniyah, kekhalifahan Islam terakhir sebelum dihapuskan oleh Mustafa Kamal Attaturk dengan bantuan koalisi Inggris-Perancis-Amerika pada tahun 1924, sistem keuangannya di awal berdiri adalah emas dan perak dengan perbandingan 1:15. namun demikian, pada tahun 1839 dikatakan bahwa pemerintahan dinasti Utsmaniyah menerbitkan mata uang baru yang menyerupai uang kertas yang disebut dengan Gaima, yaitu kertas-kertas seperti bank-note yang memiliki back-up emas dan perak di tempat penyimpanan khusus (bank). Hanya saja nilainya terus merosot sehingga masyarakat banyak yang tidak percaya lagi dan meminta ganti dengan emas yang terkait.

 

This entry was posted in Islamic Economic Thoughts, Special Issues, Zakat & Waqf. Bookmark the permalink.

2 Responses to Uang Dalam Islam

  1. izin copas boleh Pak?
    Jazaakumulloh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s