Riba

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2]: 275)

Sekarang kita memasuki pembahasan tentang alasan pertama dan utama mengapa seorang Muslim harus berlepas diri dari ekonomi kapitalisme saat ini yaitu riba. Riba merupakan unsur Haram yang terdapat dalam perekonomian sebagian besar umat manusia dari masa ke masa. Selama masih ada unsur riba, sekecil apapun itu, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan pernah meridloinya.

Secara bahasa, kata Ar-Riba berasal dari bahasa Arab yang artinya Az-Ziyadah atau menambah atau memberi kelebihan. Praktek mengambil kelebihan dari pinjaman uang yang diberikan kepada seseorang memang sudah dikenal manusia bahkan lama sebelum Islam datang. Al-Hafiz Ibn Hajar rahimahullah menuliskan dalam komentarnya dalam kitab Fathul Bari, Volume 4: Imam Malik telah meriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa sebelum Islam turun di jazirah Arab, riba selalu berubah-rubah sesuai dengan skema yang disepakati. Tetapi pada umumnya adalah dipraktekan seperti berikut, seseorang meminjam uang dari orang lain dengan tempo waktu pengembalian yang disepakati bersama, jika dalam tempo yang ditentukan si peminjam tidak dapat melunasi hutangnya, maka orang yang meminjamkan uang tersebut akan menawarkan pengunduran waktu dengan tambahan sejumlah uang tertentu dari yang seharusnya dibayarkan.

1. Pengharaman Riba dalam Al-Qur’an

Pengharaman riba yang terdapat dalam Al Qur’an tidak dilakukan dengan seketika, melainkan diturunkan secara bertahap, seperti proses pada pengharaman minuman keras. Hal ini dapat difahami karena riba (mengambil kelebihan dari pinjaman kepada orang lain) merupakan sesuatu yang biasa terjadi saat itu di kalangan masyarakat Arab jahiliyah, bahkan juga di Rumawi dan Persia.

Tahap pertama dari proses pengharaman riba ini adalah dengan menolak anggapan bahwa pinjaman dengan kelebihan tertentu saat mengembalikannya, yang pada zhahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan, sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (QS Ar Ruum [30]: 39)

Ayat ini ingin menjauhkan manusia dari riba dengan mengatakan bahwa riba tidak memiliki makna apapun di sisi-Nya. Dan membandingkannya dengan zakat yang pahalanya sampai kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan terus berlipat ganda di sisi-Nya.

Tahap kedua adalah penggambaran riba sebagai sesuatu yang buruk dan ancaman bagi mereka yang senang memakan riba seperti bangsa Yahudi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

(QS An Nisaa’ [4]: 160-161)

Tahap ketiga adalah pengharaman riba yang dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda, karena pengambilan bunga pinjaman dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktekkan pada masa tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

(QS Ali ‘Imran [3]: 130)

Pada Tahap terakhir Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas mengharamkan segala kelebihan atau penambahan nilai dari pokok pinjaman. Inilah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

(QS Al Baqarah [2]: 279)

Jadi jelaslah bahwa pengharaman riba bukan sekedar kepentingan bisnis para ulama yang mengeluarkan fatwa, atau kepentingan marketing perbankan syariah dan institusi keuangan syariah lainnya, melainkan memang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Zat yang paling mengetahui secara terperinci tentang manusia dan kehidupan manusia.

2. Pengharaman Riba dalam Hadits

Pengharaman riba tidak hanya terdapat dalam Al-Qur’an melainkan juga terdapat dalam banyak hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam. Dalam haji wada’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam, beliau telah berpesan sekaligus menegaskan kepada seluruh umat Islam betapa riba sangat terlarang dalam Islam dan berbahaya bagi kehidupan manusia. Beliau mengatakan,”Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah ditangannya, maka hendaklah dibayarkan kepada pemiliknya. Dan, sesungguhnya riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-‘Abbas bin’Abdul-Muththalib.”

Diriwayatkan oleh Aun bin Abi Juhaifa, “Ayahku membeli seorang budak yang pekerjaannya membekam (mengeluarkan darah kotor dari kepala), ayahku kemudian memusnahkan peralatan bekam si budak tersebut. Aku bertanya kepada ayah mengapa beliau melakukannya. Ayahku menjawab, bahwa Rasulullah melarang untuk menerima uang dari transaksi darah, anjing, dan kasab budak perempuan, beliau juga melaknat pekerjaan pentato dan yang minta ditato, menerima dan memberi riba serta beliau melaknat para pembuat gambar.” (H.R. Bukhari Volume 3 No.299).

Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundub bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda, “Malam tadi aku bermimpi, telah datang dua orang dan membawaku ke Tanah Suci. Dalam perjalanan, sampailah kami ke suatu sungai darah, di mana di dalamnya berdiri seorang laki-laki. Di pinggir sungai tersebut berdiri seorang laki-laki lain dengan batu di tangannya. Laki-laki yang di tengah sungai itu berusaha untuk keluar, tetapi laki-laki yang di pinggir sungai tadi melempari mulutnya dengan batu dan memaksanya kembali ke tempat asal. Aku bertanya, ‘Siapakah itu ‘ Aku diberitahu, bahwa laki-laki yang di tengah sungai itu ialah orang yang memakan riba.” (H.R. Bukhari No.2468).

Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda,”Tinggalkanlah tujuh hal yang dapat membinasakan!” para sahabat bertanya,”Apakah gerangan wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab,”Syirik kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sihir, membunuh jiwa orang yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri sewaktu datang serangan musuh, dan menuduh wanita mu’min yang suci tetapi lalai.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala melaknat orang-orang yang turut serta dalam akad riba. Dia melaknat orang yang berutang dan menghutangkan dengan akad riba, serta penulis dan saksi-saksinya dalam akad riba tersebut. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Abu Daud, serta Imam Tirmidzi yang mensahihkannya dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam telah bersabda,”Allah Subhanahu Wa Ta’ala melaknat pemakan riba, yang memberi makannya, saksi-saksinya dan penulisnya.” Serta, Ad-Daruquthnie meriwayatkan dari Abdullah bin Hanzalah, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda, “Untuk satu dirham riba di sisi Allah, lebih berat dari tiga puluh enam kali berzina menurut (ukuran) kesalahan.” Dan sabda beliau yang lain,”Untuk riba ada 99 (sembilan puluh sembilan) pintu dosa, yang paling rendah (derajatnya) seperti seseorang yang menzinahi ibunya.

3. Jenis Riba

Berdasarkan uraian sebelumnya, maka para ulama membagi Riba dalam dua jenis yaitu riba Al-Qur’an atau dikenal juga dengan Rina Nasi’ah atau Riba Jahiliyah, dan Riba As-Sunnah atau Riba Fadl.

A. Riba Nasi’ah

Adalah tambahan yang dipersyaratkan oleh orang atau lembaga yang menghutangkan (memberi pinjaman) atas modal pinjaman kepada orang yang meminjam. Hal ini seperti dipaparkan di awal tentang Riba dalam Al-Qur’an. Pengharaman riba Nasi’ah ini jelas menunjukan bahwa menetapkan tambahan pengembalian atas dana yang dipinjam oleh yang berhutang tidaklah dibenarkan dalam Islam.

B. Riba al-Fadhl

Adalah jual beli mata uang dengan mata uang atau barang pangan dengan barang pangan dengan tambahan di salah satunya. Hal ini seperti dijelaskan oleh beberapa hadits diantaranya yang diriwayatkan oleh Abu Said RA, bahwa Bilal pernah menghadap baginda dengan membawa kurma Barni. Rasulullah s.a.w bertanya: Dari manakah kurma ini? Bilal menjawab: Kurma milik aku yang kurang bermutu, maka aku menjualnya dua gantang dengan satu gantang (yang bermutu) untuk juadah Nabi s.a.w. Apabila mendengarnya, Rasulullah s.a.w bersabda: Ah, itu adalah riba. Jangan buat seperti itu. Jika kamu ingin membeli kurma yang baik, juallah kurmamu dan belilah kurma yang baik dengan hasil penjualanmu tadi (Nomor hadis dalam sahih Muslim adalah 2985).

Kemudian hadis Abu Said al-khudry RA, Diriwayatkan daripada Abu Nadhrah r.a katanya: Aku pernah bertanya Ibnu Abbas tentang tukar menukar barang yang sejenis. Beliau bertanya semula: Adakah saling menerima? Aku menjawab: Ya! Maka beliau berkata: Itu tidak mengapa. Aku memberitahu Abu Said, kataku: Aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas tentang tukar menukar barang yang sejenis. Beliau bertanya semula: Apakah terus diserah terima? Aku menjawab: Ya! Beliau berkata: Kalau begitu, tidak mengapa. Abu Said berkata: Benarkah dia berkata begitu? Aku akan menulis surat kepadanya supaya dia tidak lagi memberi fatwa begitu kepada kamu. Demi Allah beberapa orang pemuda pernah menghadap Rasulullah s.a.w dengan membawa kurma tetapi baginda tidak mengenali kurma tersebut. Baginda bersabda: Kurma ini kelihatan bukan hasil dari tanah kita. Pemuda tadi berkata: Inilah yang berlaku pada kurma kita, hasilnya tidak begitu baik atau mungkin juga pemuda tersebut berkata: Pada tahun ini tamar kita tidak begitu baik. Oleh itu saya menukarnya dengan kurma ini secara melebihkannya sedikit. Baginda bersabda: Kamu telah melebihkannya, bererti kamu telah melakukan riba. Jangan sekali-kali kamu lakukan perkara sebegini. Apabila ada sesuatu yang meragukan tentang kurmamu maka juallah kurmamu itu kemudian belilah kurma yang kamu inginkan (Nomor hadis dalam sahih Muslim adalah 2988).

Terkait dengan mata uang, hadis Abu Said al-khudry RA, bahwa Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Janganlah kamu menjual emas dengan emas (mata uang) kecuali sama jumlahnya serta janganlah melebihkan sebahagiannya. Kemudian janganlah kamu menjual perak dengan perak kecuali sama jumlahnya serta jangan melebihkan sebahagiannya dan janganlah menjualnya dengan cara sebahagian secara tunai dan sebahagian lagi ditangguhkan (Nomor hadis dalam sahih Muslim adalah 2964).

4. Bunga bank dan Riba

Dalam diskusi yang berkembang di masa sekarang tentang riba, banyak terjadi perbedaan dikalangan ulama dan para ekonom Muslim tentang apakah interest yang menjadi ruh perekonomian kapitalis saat ini termasuk dalam riba yang diharamkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ataukah bukan?

Secara umum dapat disimpulkan bahwa pendapat yang menolak mengatakan bahwa bunga pinjaman adalah riba beranggapan bahwa riba dalam Islam hanyalah riba al-nasi’ah saja sehingga jika tidak terjadi penggandaan uang lipat-berlipat (ad’afan mudho’afan), yang berbunga hanya principal-nya saja, apalagi jika kedua pihak merasa ikhlas dengan kondisi ini, maka riba menjadi gugur. Pendapat ini didukung oleh A.R. Sanhury (anggota kehormatan Association of Lawyers and Islamic Reformist di Mesir), serta Ibrahim Zaki al-Badawi (sebelum akhirnya dia mengatakan bahwa semua bentuk bunga pinjaman adalah riba), serta beberapa ulama lain yang sefaham dengan mereka.

Ada juga kelompok lain yang mengatakan bahwa uang pinjaman bersama dengan bunganya yang harus dikembalikan bukanlah riba al-nasi’ah melainkan riba al-fadl, karena hanya terjadi pertukaran mata uang antara uang sejumlah pinjaman tertentu dengan uang sejumlah pinjaman itu plus bunganya.

Taqi usmani, seorang ulama fiqih terkemuka saat ini mengatakan bahwa pendapat pertama yang menolak keberadaan riba al-fadl sangatlah naïf dan terlalu mudah mengambil kesimpulan, padahal sudah jelas hadis yang mengungkapkannya seperti tertulis pada sub-bab sebelumnya. Sedangkan terhadap pendapat yang kedua, Taqi usmani mengatakan bahwa riba al-nasi’ah tidak terbatas hanya pada situasi dimana si peminjam tidak mampu melunasi hutangnya pada waktu yang ditentukan, akan tetapi ia menaungi seluruh transaksi dimana terdapat persyaratan untuk mengembalikan jumlah uang yang dipinjam dengan kelebihannya, apakah itu di awal transaksi ataupun saat jatuh tempo pengembalian. Dengan kata lain, mekanisme bunga bank saat ini yang menentukan kelebihan pengembalian di awal boleh dikatakan melebihi kekejaman cara pengambilan bunga zaman jahiliyah. (Abu Fahmi)

This entry was posted in 'Uqud, Islamic Banking, Islamic Capital Market, Islamic Economic Thoughts, Islamic Insurance, Islamic Marketing, Islamic Microfinance, Special Issues, Zakat & Waqf. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s