Sakratul Maut Kapitalisme

Barangkali krisis moneter yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini adalah yang terparah selama setahun ke belakang sejak gonjang-ganjing kasus Subprime Mortgage. Banyak pengamat dan praktisi telah memaparkan dan menganalisa mengapa hal ini dapat terjadi. Secara umum penyebab utamanya adalah ledakan kredit oleh lembaga-lembaga keuangan dan rumah tangga yang mengakibatkan besarnya hutang yang harus dibayarkan dan akhirnya tidak terbayar.

Informasi dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa antara tahun 2002 sampai 2006 pertumbuhan kredit konsumtif pada rumah tangga mencapai 11% dan lembaga keuangan mencapai 10% setiap tahunnya. Jauh melebihi pertumbuhan ekonomi AS itu sendiri.

Akhirnya sejak setahun ke belakang ribuan rumah tangga tidak mampu lagi membayar hutang mereka kepada pihak bank yang mengakibatkan ketidakmampuan pihak bank mengontrol proses likuidasi seiring penurunan drastis dari harga rumah.

Mungkin Terparah Sepanjang Sejarah Kapitalisme
Di antara sejarah kegagalan Kapitalisme adalah yang terjadi pada tahun 1866 di Inggris. Bank of England sebagai pusat keuangan dunia saat itu diumumkan bangkrut. Kemudian disusul oleh kegagalan investasi oleh Bank Barings di Argentina pada tahun 1890 yang memaksa Bank Sentral Inggris saat itu menanggulangi masalah likuidasinya yang mencapai 18 miliar UK poundsterling.

Kemudian sejarah kegagalan Kapitalisme sampai ke AS pada tahun 1929 yang dikenal dengan istilah “Black Thursday”. Peristiwa ini dipicu oleh spekulasi besar-besaran di pasar modal akibat munculnya industri-industri baru seperti broadcasting dan produksi mobil.

Kejadian ini memberikan dampak yang sangat buruk bagi perekonomian AS. Pada puncaknya, tahun 1932, nilai saham-saham telah ambruk sampai 90%. Pertumbuhan ekonomi merosot sampai 50%. Kemudian angka pengangguran sampai sepertiga dari populasinya. Oleh karena itu sangat wajar jika Amerika memanfaatkan dengan sangat baik momen Perang Dunia II sebagai pengurang angka pengangguran.

Pada tahun 1985 di Amerika terjadi juga apa yang disebut dengan “US Saving and Loan Scandal”. Tanpa adanya regulasi Institusi Saving and Loan tersebut dapat melakukan transaksi keuangan yang kompleks. Atau bahkan tidak masuk akal untuk bersaing dengan bank-bank komersial. Akhirnya pada tahun 1985 seluruh institusi Saving and Loan ini bangkrut. Pemerintah AS saat itu mengucurkan dana 150 miliar USD untuk menyelamatkannya.

Masih ada beberapa peristiwa lagi yang mencerminkan betapa orang-orang pintar di sana ternyata belum cukup pintar untuk memahami bahwa bukan salah matematika dan model prediksi yang mereka gunakan sehingga krisis ini terjadi. Bukan juga salah para ahli risk management. Namun, sistem di mana rantai dan jeruji roda itu bertemu yang tidak tepat. Sehingga kesalahan demi kesalahan yang sebenarnya sama terus terulang kembali.

Kepanikan pasar di AS yang terjadi saat ini berasal dari kegagalan yang bersifat massif dalam dunia kredit. Sama seperti sebelumnya. Semua berjalan dengan prinsip bebas. Kapitalisme tanpa regulasi.

Buntutnya adalah pengucuran dana sebesar 700 milyar USD untuk menyelamatkan muka AS di dunia. Namun, apakah ini penyelesaian yang tepat? Sepertinya akan sama seperti krisis-krisis sebelumnya.

Pengkhianatan AS Terhadap Kapitalisme
Bukan rahasia lagi jika IMF dan Bank Dunia sebenarnya adalah kendaraan Kapitalisme AS. Anehnya ketika IMF dan Bank Dunia ini bertindak sebagai dokter masalah keuangan negara-negara berkembang yang mengalami krisis seperti Indonesia di tahun 1997-1998. Resepnya hanya satu yaitu liberalisasi karena inilah ciri khas Kapitalisme.

Namun, saat ini ketika induk semang kapitalisme mengalami hal yang sama dengan negara-negara berkembang, bahkan lebih parah, mereka diam. Dan ketika Pemerintah AS menasionalisasi perusahaan-perusahaan bermasalah itu pun IMF dan Bank Dunia seakan tak punya suara.

Tetapi, penulis menyadari bukan AS namanya kalau tidak munafik, dan bukan AS juga kalau tidak sombong. Tinggal menunggu kesadaran masyarakat dunia untuk menolak Kapitalisme sampai ke pintu-pintu rumah mereka dan mendukung ekonomi samawi berbasis keadilan (bukan sama rata sama rasa) untuk menciptakan kesejahteraan umat manusia.

Seumpama Wafatnya Nabi Sulaiman AS
Ketika ISEFID (Islamic Economics Forum for Indonesia Development) mengadakan silaturahim di Kuala Lumpur bersama Profesor Asad Zaman dari International Islamic University Islamabad Pakistan beberapa waktu lalu beliau menyebutkan
bahwa keruntuhan hegemoni Barat sudah tiba masanya.

Asad Zaman yang juga berwarga negara AS itu mengatakan bahwa umumnya masyarakat Barat pendukung Kapitalisme saat ini telah kehilangan orientasi dalam mencari apa yang disebut kebahagiaan. Beliau mengatakan bahwa Kapitalisme telah mati sejak lama. Hanya saja banyak orang yang tidak sadar akan keadaan ini.

Ibarat Nabi Sulaiman AS yang telah mati sekian lama namun tidak ada satu pun yang tahu sampai rayap-rayap habis memakan tongkat Nabi Sulaiman AS. Kemudian jasadnya terjatuh ambruk ke tanah. Saat itulah semua makhluk menyadari bahwa selama ini Nabi Sulaiman AS telah wafat.

Bukan bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman AS adalah manusia yang buruk seperti buruknya Kapitalisme (bahkan beliau adalah Nabi yang disebutkan kemuliaannya dalam Al Quran). Namun, kondisi seperti itu dapat juga terjadi saat ini.

Umat Islam menjadi buta oleh kenikmatan rancangan Kapitalisme sehingga tidak sadar bahwa sesungguhnya sistem ini telah hancur. Kita perlu untuk kembali kepada sistem terbaik yang dirancang khusus untuk rahmatan lil ‘alamin. Bukan cuma untuk umat Islam saja. Tetapi, untuk semua umat manusia. (Abu Fahmi)

Dikutip dari suara pembaca detik.com

This entry was posted in Islamic Banking, Islamic Capital Market, Special Issues. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s