Memahami Perjuangan ini Dengan Sempurna (3): Perduli Dengan Lingkungan

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS An-Nisaa’ [4]: 36)

Setelah kita memahami tugas-tugas, kewajiban, dan hak-hak kita sebagai individu dan bagian dari sebuah keluarga terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Islam ini, maka tahapan selanjutnya adalah memahami apa-apa saja hak dan kewajiban kita terhadap lingkungan tempat kita tinggal dan beraktifitas. Al-Qur’an surat an-Nisaa’ ayat 36 telah menyebutkan agar kita (sebagai individu) tidak mempersekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sesuatu apapun, kemudian berbuat baik kepada keluarga (orang tua, istri dan anak-anak, serta karib-kerabat), kemudian berbuat baik dengan orang-orang yang hidup di sekeliling kita (tetangga yag dekat dan yang jauh) terutama kepada orang-orang miskin dan anak-anak yatim diantara mereka.

Terdapat sebuah kisah tentang seseorang yang mendapatkan predikat haji mabrur dari Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Salam. Ketika seorang sahabat mendengar kabar ini, beliau segera menuju desa yang dimaksud oleh Rasulullah kemudian mencari orang tersebut, yang menurut Rasulullah telah mendapatkan predikat haji mabrur. Ketika sahabat itu bertemu dengan orang yang dimaksud, beliau bertanya,”Wahai sahabat, aku telah mendengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bahwasanya engkau telah mendapatkan haji mabrur, bagaimanakah gerangan pelaksanaan haji mu itu?”, Orang itu menjawab keheranan,”Haji mabrur? Haji mabrur apa? Saya belum pernah berhaji ke Baitullah”, Sahabat itu meyakinkan orang tersebut bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam memang mengatakan itu. Akhirnya orang tersebut bercerita bahwa setahun lalu ia memang ingin berangkat haji ke Baitullah, akan tetapi saat itu ia mengetahui bahwa ada tetangga di desanya yang menahan lapar berhari-hari dan tidak memiliki uang untuk membeli bahan makanan, kemudian ia mengunjungi dan memberikan sebagian besar uang yang dipersiapkannya untuk berhaji kepada tetangga di desanya itu, dan iapun tidak jadi berangkat berhaji.

Subhanallah! Ternyata untuk menjadi haji mabrur, dapat dilakukan di lingkungan rumah kita. Yang diperlukan hanyalah kepekaan hati dan keikhlasan membantu atas kondisi lingkungan kita, segera membantu tetangga yang sedang ditimpa musibah, bukan malah membicarakan dan menambah-nambah penderitaannya dengan fitnah-fitnah, dan lain sebagainya.

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. . Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali-). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim . Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya “ (Riwayat Muslim)

Hadits di atas menjelaskan apa yang tidak diperbolehkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita atas tetangga dan kerabat kita, terutama yang Muslim. Dan inilah mu’amalah dalam Islam. Janganlah kita mendengki dengan mengharap hilangnya nikmat yang sedang dirasakan oleh tetangga kita, karena hal ini adalah Haram. Dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda,”Jauhilah olehmu sekalian sifat dengki, karena dengki itu memakan segala kebaikan seperti api memakan kayu.” Relakah kita jika tabungan pahala yang kita mulai sejak kecil, dewasa, hingga berkeluarga hilang begitu saja bagaikan kayu termakan api yang abunya kemudian tertiup angin? Na’udzubillahi min dzalika.

Cita-cita terbentuknya sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam tidak akan terwujud jika kita sendiri tidak memulainya. Mulailah untuk mendirikan shalat wajib secara berjama’ah di Masjid, mengkoordinir pelaksanaan acara-acara ke-Islaman yang mampu membuat masyarakat sekitar merasa tertarik untuk berkontribusi atau sekedar hadir dalam acara-acara tersebut. Jangan kalah meriah dengan acara dangdutan, jangan kalah kreatif dengan acara 17-an.

Selain itu, mulailah untuk merancang aktivitas-aktivitas positif yang diharapkan mampu membantu perekonomian masyarakat sekitar kita. Pendirian Baitul Maal wat-Tamwil, koperasi syariah, disertai pelatihan-pelatihan keterampilan dan yang sejenisnya akan mampu merangsang semangat masyarakat untuk berwirausaha, sekaligus di saat yang sama kita dapat berdakwah dan mengenalkan bagaimana model perekonomian mikro yang mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (Abu Fahmi)

This entry was posted in Islamic Banking, Islamic Capital Market, Islamic Insurance, Islamic Microfinance, Zakat & Waqf. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s