Memahami Perjuangan ini Dengan Sempurna (2): Didiklah Keluarga Kita

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6)

Ibnu Abbas dalam Tafsir Ibnu Katsir mengomentari ayat ini bahwa kita harus taat kepada perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan kita wajib menjaga agar keluarga kita juga mematuhi perintah-perintah tersebut dan jangan mempersekutukan-Nya dengan yang lain, semisal harta, pekerjaan, dan kedudukan di dalam masyarakat. Sedangkan Mujahid dan Qatadah mengatakan tentang ayat ini bahwa seseorang harus membantu keluarganya dalam mematuhi perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut dan jangan memerintahkannya lalu meninggalkannya begitu saja tanpa membantunya dan memberikan pelajaran yang benar. Bahkan Ad-Dahhak dan Muqatil mengatakan bahwa mengajarkan keluarga dan budak-budak untuk mematuhi perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah wajib hukumnya.

Senada dengan ayat ini, Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ bin Sabrah yang mengatakan bahwa ayahnya mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda:

مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ، فَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

Perintahkanlah anak-anak mu untuk mendirikan sholat saat usianya mencapai tujuh tahun, dan ketika usianya telah mencapai sepuluh tahun, pukulah dia karena meninggalkannya. (Narasi dari Abu Dawud; At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini Hasan)

Suatu ketika khalifah Umar bin Abdul Azis, dihari pertama masa kepemimpinannya, beliau baru saja menguburkan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Malik. Karena terasa lelah, begitu sampai dirumahnya beliau langsung merebahkan badan, tiba-tiba datang seorang pemuda dan langsung bertanya kepadanya,”Apa yang ingin engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?” Khalifah Umar bin Abdul Azis menjawab,”Biarkan aku tidur barang sejenak. Aku sangat lelah, sehingga nyaris tidak ada kekuatan yang tersisa.” Namun pemuda tersebut nampak tidak puas dengan jawaban Umar bin Abdul Azis, kemudian ia bertanya lagi,”Apakah engkau akan tidur sebelum mengembalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya wahai Amirul Mukminin?”, Umar bin Abdul Azis menjawab,”Jika tiba waktu dzuhur, saya bersama orang-orang akan mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya.” Jawaban itu yang kemudian ditanggapi oleh sang pemuda itu,”Siapa yang menjaminmu akan tetap hidup sampai setelah dzuhur wahai Amirul Mukminin?”. Pemuda itu bernama Abdul Malik, putra dari khalifah Umar bin Abdul Azis sendiri. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala merahmati keduanya.

Begitulah contoh bagaimana setiap anggota dalam sebuah keluarga melaksanakan tugasnya dalam mengingatkan satu sama lain untuk mentaati perintah-perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Betapa indahnya jika anak-anak membangunkan orang tuanya untuk melaksanakan sholat tahajud kemudian bersama-sama mendirikan shalat shubuh berjama’ah di masjid. Betapa bahagianya ketika seorang istri mengingatkan sang suami untuk membayar zakat dan banyak ber-infak dijalan dakwah dan membantu tetangga-tetangga terdekat yang mengalami kesulitan ekonomi daripada banyak meminta untuk berbelanja yang tidak perlu dan mengkoleksi perhiasan-perhiasan yang tidak memiliki manfaat bagi lingkungan dan dakwah Islam.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS Thaahaa [20]: 132)

Senada dengan ayat 66 dari surat at-Tahrim sebelumnya, menurut Ibnu Katsir Rahimahullah ayat ini pun memerintahkan kita untuk selalu memerintahkan kepada keluarga, khususnya dalam urusan mendirikan shalat, dan sekaligus kita juga diingatkan agar selalu bersabar dalam melakukannya. Mengapa hal ini perlu kita lakukan? Pertama, jelas hal ini akan kembali kepada kita sendiri, karena kita-lah yang memerlukan Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang memerlukan shalat dan penghambaan kita. Jikalau seisi dunia ini kafir semuanya, ataupun jika seisi dunia ini beriman semuanya, tidak akan berpengaruh apapun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia tetap Maha Kuasa dan Maha Menentukan atas segalanya. Dan janji-Nya bagi yang mendirikan shalat di dunia adalah surga-Nya yang maha indah dan belum pernah terbayangkan keindahan itu oleh siapapun.

Kedua, menurut Ibnu Katsir Rahimahullah, potongan ayat selanjutnya menerangkan balasan bagi mereka yang selalu mendirikan shalat dan mengajak keluarganya untuk mendirikan shalat dengan kesabaran. Maksudnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan melapangkan rezeki bagi mereka yang melaksanakan hal tersebut.

Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda,

يَقُولُ اللهُ تَعَالى: يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنىً وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَك

Telah berkata Allah Yang Maha Besar:Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku, niscaya akan Ku penuhi dadamu dengan kekayaan dan akan Ku penuhi segala keperluanmu. Dan jika kamu tidak melakukan (Ibadah) itu, maka akan Ku penuhi dadamu dengan kesusahan dan Aku tidak akan memenuhi keperluanmu.

Zaid bin Tsabit juga meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Salam bersabda,

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ، جَمَعَ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَة

Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan memisahkan (menyusahkan) segala urusannya, dan kemiskinan akan diletakan di antara kedua matanya, dia tidak akan mendapatkan apapun kecuali apa-apa yang telah dituliskan (oleh Allah) untuknya. Barang siapa menjadikan akhirat sebagai niatnya (tujuannya), maka (Allah) akan memudahkan segala urusannya, dan kekayaan (kelapangan) akan diletakkan di dalam hatinya. Dan kehidupan dunia akan menghampirinya (walaupun ia tidak mencarinya). (Abu Fahmi)

This entry was posted in Islamic Banking, Islamic Capital Market, Islamic Insurance, Islamic Microfinance, Zakat & Waqf. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s