Istisna’

Istisna’ adalah bentuk kedua dari model jual beli dimana barang atau komoditas ditransaksikan sebelum barang atau komoditas tersebut ada wujudnya. Artinya, jika kita memesan sebuah barang dari sebuah pabrik atau industri rumah tangga dengan karakteristik tertentu dengan bahan mentah untuk barang pesanan tersebut berasal dari mereka, maka itulah istisna’. Akan tetapi, untuk membuat kontrak istisna’ itu valid, maka diperlukan kesepakatan harga dan spesifikasi barang oleh penjual dan pembeli, jika keduanya berubah setelah kesepakatan ditanda tangani, maka kontrak istisna’ menjadi batal.

Kontrak istisna’, seperti pada kontrak jual beli As Salam, memberikan beban moril kepada orang yang menerima pesanan barang tersebut (pabrik atau industri rumah tangga) agar mampu menyediakan barang dengan spesifikasi dimaksud dalam waktu yang disepakati. Kontrak istisna’ tidak dapat dibatalkan setelah pabrik/industri rumah tangga mulai mengerjakan barang pesanan yang diminta. Akan tetapi, jika terjadi perbedaan atas barang yang dipesan  oleh pembeli dengan barang yang diberikan oleh pabrik / industri rumah tangga disaat pengiriman, maka kontrak istisna’ menjadi batal dengan sendirinya. Salah satu implementasi dari akad istisna’ saat ini misalnya adalah seseorang yang meminta seorang penjahit untuk menjahitkan pakaian seperti yang ia inginkan dengan bahan pakaian berasal dari si penjahit bukan dari orang yang meminta dijahitkan baju.

 

Perbedaan Istisna’ dengan Salam

Perbedaan istisna’ dengan jual beli Salam:

1. Subjek dari akad istisna’ adalah barang-barang yang diproduksi baik oleh pabrik ataupun industri rumah tangga sedangkan jual beli Salam dapat berupa benda atau barang apa saja, tidak harus barang yang diproduksi oleh pabrik.

2. Dalam jual beli Salam, harga yang disepakati harus dibayar lunas dimuka, sedangkan pada istisna’ tidak harus demikian.

3. Pada jual beli Salam, akad yang disepakati tidak dapat digugurkan oleh salah satu pihak, sedangkan pada istisna’, selama pihak penjual atau pabrik belum memulai kerjanya maka akad yang disepakati diawal dapat dibatalkan oleh salah satu pihak.

4. Bagi akad jual beli Salam, waktu pengiriman barang adalah unsur akad yang sangat penting, sedangkan pada istisna’ tidak. Artinya, waktu pengiriman dapat berubah atas kesepakatan bersama sampai barang yang dimaksud dapat selesai dibuat.

 

Perbedaan Istisna’ dengan Ijarah

Perlu diingatkan disini bahwa ketika mengerjakan pesanan barang dengan akad istisna’, bahan mentah yang digunakan untuk memproduksi barang pesanan istisna’ harus berasal dari pabrik atau industri rumah tangga itu dan bukan dari si pemesan/pembeli. Jika bahan mentah tersebut diberikan dari si pemesan/pembeli, dan pabrik atau industri rumah tangga tersebut hanya menyediakan skill/keahliannya untuk memproduksi barang pesanan, maka yang terjadi adalah akad ijarah dengan dengan memberikan ujrah/upah atas kerja pabrik atau industri rumah tangga tersebut dan bukannya istisna’.

 

Istisna’ Sebagai Model Pembiayaan

Istisna’ adalah model khusus dalam akad jual beli. Menurut ulama fiqih terdahulu, ada 3 tipe khusus dalam akad jual beli yang dapat digunakan untuk pembiayaan:

1. Akad jual beli umum, dimana pertukaran antara barang dan uang terjadi secara simultan dan di tempat yang sama. Tidaka ada pembiayaan disana, baik kepada penjual maupun pembeli. Hal ini seperti banyak terjadi di pasar-pasar tradisional.

2. Jual beli dengan pembayaran ditangguhkan. Penjual dalam hal ini memberikan pembiayaan kepada pembeli disebabkan barang yang diinginkan pembeli telah diberikan oleh penjual sedangkan si penjual belum menerima uang dari si pembeli karena kesepakatan mereka untuk menunda pembayaran.

3. Jual beli Salam, dimana pembeli memberikan pembiayaan kepada si penjual dengan membayarkan uang pembelian di awal, sedangkan pengiriman barang dimaksud terjadi belakangan.

Perhatikan bahwa pada poin 2 dan 3 salah satu unsur dapat diakhirkan, apakah itu uang pembayarannya atau justru barang yang diperjual belikannya. Para ulama, secara umum, tidak menerima pandangan untuk dapat menunda pembayaran dan barang sekaligus. Artinya, jika kedua pembeli dan penjual sepakat untuk menunda pembayaran dan pengiriman barang, maka kontrak tersebut dapat dibatalkan kapan saja. Nah inilah yang unik dari istisna’. Para ulama menerima istisna’ padahal istisna’ membolehkan penundaan barang dan pembayaran untuk masa yang akan datang. Hal ini didukung dengan alasan, bahwa objek benda yang memerlukan pengolahan pabrik atau pembangunan fisik seperti gedung, maka diperlukan waktu untuk memenuhinya, oleh karena itu, pengadaan barangnya dapat ditangguhkan. Sedangkan jika si pembeli juga memerlukan pembiayaan dari si penjual, karena alas an yang dapat diterima secara syar’I, maka pembayarannya pun dapat ditangguhkan. Oleh karena itu, aka nada tipe khusus ke-4 dalam akad jual beli berdasarkan pola pembiayaannya yaitu:

4. Jual beli Istisna’, dimana pembeli memberikan pembiayaan kepada si penjual dengan memberikan tenggat waktu untuk pengiriman barang, sedangkan penjual dapat memberikan pembiayaan kepada pembeli dengan mengizinkan penangguhan pelunasan.

 

Istisna’ dan Pembiayaan pada Perbankan Syariah

Pada dasarnya, dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa model istisna’ dapat mengantikan model murabaha yang selama ini menuai kontroversi di seluruh dunia terkait dengan ke-identikan-nya dengan pinjaman pada bank konvensional. Akan tetapi, diperlukan waktu untuk bisa memperkenalkan/ mensosialisasikan model ini kepada pihak nasabah dan pihak bank syariah sehingga model ini betul-betul dapat diimplementasikan.

Istisna’ dapat digunakan sebagai fasilitas pembiayaan untuk berbagai transaksi, diantara yang paling memungkinkan adalah pada model pembiayaan rumah untuk nasabah. Jika nasabah dimaksud telah memiliki sebidang lahan, bank syariah dapat membangunkan rumah diatas lahan tersebut, atau jika nasabah tidak memiliki lahan apapun, maka bank syariah dapat membelikan lahan dan membangunkan rumah diatasnya sekaligus.

Disebabkan bukan sebuah keharusan bahwa pembayaran atas transaksi istisna’ dilakukan secara cash di awal, atau secara cash di akhir, maka proses pembayaran dapat disepakati antara kedua belah pihak, bisa dalam bentuk cicilan yang besarnya cicilan dan waktu pelunasannya disepakati bersama.

Di sisi lain, bukan sebuah keharusan juga bahwa orang yang memberikan pembiayaan yang harus membangun rumah tersebut, mereka dapat masuk dalam sebuah model parallel dari istisna’. Jadi, pihak bank dapat memperhitungkan dulu berapa biaya menyewa kontraktor untuk membangunkan rumah seperti yang dipesan kemudian berapa besarnya keuntungan yang cukup beralasan untuk diambil dari transaksi ini, baru setelah menemukan angka rupiah yang diterima kedua pihak maka transaksi dapat dijalankan. Untuk masalah pembayaran, nasabah dapat memulai cicilannya sesaat setelah kontrak ditanda tangani sampai waktu yang disepakati bersama.

Untuk menambah keyakinan pihak penyedia dana (penjual rumah/bank syariah) bahwa pembeli (nasabah) tidak akan mempermainkan kontrak yang telah disepakati, mereka boleh meminta jaminan barang yang bernilai sama atau lebih dengan nilai penjualan (bisa dengan rumah dan atau tanah yang dibangun) dari pihak pembeli sampai harga yang disepakati dilunasi oleh pembeli. Pihak penjual (bank syariah) dalam hal ini juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk membangunkan rumah sesuai spesifikasi yang telah disepakati, tidak kurang dan tidak lebih. Jika ada hal-hal yang berlainan dengan spesifikasi yang disepakati di awal, maka pembeli (nasabah) berhak menolak dan membatalkan kontraknya. Oleh karena itu, kehormatan dan tanggung jawab pihak penjual (bank syariah) dipertaruhkan agar tetap dalam harmonisasi kontrak istisna’ bersangkutan. (Abu Fahmi)

 

About these ads
This entry was posted in 'Uqud, Islamic Banking, Islamic Capital Market. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s